Sayang sekali rasanya, libur semester satu kali ini kita enggak jadi reuni. Padahal, liburnya lumayan panjang, ya..,
Teman, tahukah kalian, aku sangaaat merindukan kalian. Aku percaya, kalian juga pasti merindukan aku. Aku sangat merindukan masa lalu kita. Saat-saat dimana kita belajar bersama, bermain bersama, latihan upacara bersama, berantem, bermusuhan, bahkan sampai berkelahi. Aku percaya, kenangan itu masih ada dalam benak kalian.
Ingatkah kalian saat kelas tiga, kita belajar dalam ruangan yang sempit. saat sekolah kita sedang dalam pembangunan. Kelas yang sempit, sumpek, panas. Apalagi sebelah kita adalah anak-anak kelas satu yang pastinya setiap hari selalu ramai. Lalu saat bermain drama di kelas lima. Aku yang pakai tompel, Endah and Clara yang gaya-gaya pakai nyanyi n kacamata, Edi yang g serius maen sampe' wig-nya aja lepas.Hingga seluruh kelas dibuat tertawa karenanya.
Lalu, saat kita tour ke owabong, masak daging bareng saat Idul Adha, buka bersama bareng., Ya Allah, semua itu rasanya ingin kuulang kembali. Namun, aku tahu, aku bukanlah Nobita yang setiap waktu bisa minta tolong kepada doraemon untuk memutar waktu menuju masa lalu. Sekarang, yang ada hanyalah kenangan manis yang pastinya enggak pernah terlupakan dalam benak kita.
Akhirnya, saat pertengahan 2010, kita menjadi yang paling tua di sekolah. Naik ke kelas 6. Sungguh enak rasanya, udah enggak punya kakak kelas. Tapi, rasa pusing, takut, dan deg-degan timbul saat datang detik-detik menuju UASBN. Setelah menjalani seabrek try out, latihan ujian, Usek, akhirnya UASBN kita jalani. Dan enggak terasa, di pertengahan tahun 2011, kita berpisah,. Mengadakan pentas seni. Bernyanyi, menyanyikan lagu perpisahan. Sungguh susaaaah sekali berpisah dengan kalian. Terutama berpisah dengan sahabat-sahabatku. Aku hampir aja nangis waktu nyanyi lagunya koesplus. Bagaimana dengan kalian???
Sekarang, enggak terasa udah satu semester kita enggak belajar bersama. Dan sebentar lagi kita akan menempuh semester 2. Semoga saat libur semester 2 besok, kita bisa ngadain reuni, cerita-cerita bareng soal masa lalu kita. bermain, tersenyum, dan bercanda bersama.
Hnf's blog
welcome to my blog.., :) selamat baca-baca, don't forget to follow and gift coment, ok?! :D
Jumat, 30 Desember 2011
Minggu, 28 Agustus 2011
Hafizh Nurul Faizah
Itu nama lengkapku. Faiz. Sapaan akrabku. Aku seorang sulung dari dua bersaudara. Yah, walaupun aku seorang kakak, namun aku jarang akur lho dengan adikku! Aku lebih sering berantem walau cuma 1 menit dengan adikku. Dan mayoritas, penyebabnya adalah aku. Hehe.., :)
Kulonprogo, tempat bersejarah buatku. Di sanalah aku dilahirkan. Dirumah nenekku tersayang. Yap, tanggal 18 Mei, tahun.., eits, rahasia donk..,, hehe...,
Sekarang aku sekolah di madrasah Muallimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Sekolah yang dari dulu aku impi-impikan. Alhamdulillah banget aku bisa masuk situ. Sempet deg-degan berat lho, waktu tes seleksi! Takut enggak keterima..,
Aku punya hobi menulis. Selain itu, aku juga hobi main internet, listening music, and reading a novel. Tapi yang paling aku suka itu baca novel and nulis. Jelas donk!! Penulis kan, udah jadi cita-citaku. Tapi, jujur ya, setiap aku dapet ide buat di tulis, aku males nulis. Tapi, kalau pas pengen nulis, malah enggak punya ide. Huft!!
Aku pengen banget jadi penulis kayak Andrea Hirata, atau penulis-penulis cilik KKPK yang udah nerbitin buku. Tapi, masalahny ya cuma itu, males buat nulis. Padahal, pasti setiap penulis pasti juga pernah atau bahkan sering ya, maels nulis. Cuma aku saja yang enggak mau berusaha.., ckck..,
Yah, lewat blog ini, tulisanku mulai ter-promote. Tapi, bingungnya, cara promosiin blog ini. Huft!!
Ada yang kasih saran ke aku, supaya tulisanku di-buku-kan saja. Aku rasa, susah bahkan sangat berat untuk menerbitkan sebuah buku, Tapi, kalau aku baca tulisan-tulisan penulis KKPK, mereka juga merasa berat waktu di suruh menerbikan buku. Tapi ternyata tidak terlalu susah. Yach, semoga saja perasaanku bakalan sama seperti perasaan mereka. Amin. Dan cita-citaku akan tercapi besok. Amin!! :)
Doakan ya, supaya aku benar-benar bisa menerbitkan sebuah buku.., :)
Kulonprogo, tempat bersejarah buatku. Di sanalah aku dilahirkan. Dirumah nenekku tersayang. Yap, tanggal 18 Mei, tahun.., eits, rahasia donk..,, hehe...,
Sekarang aku sekolah di madrasah Muallimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Sekolah yang dari dulu aku impi-impikan. Alhamdulillah banget aku bisa masuk situ. Sempet deg-degan berat lho, waktu tes seleksi! Takut enggak keterima..,
Aku punya hobi menulis. Selain itu, aku juga hobi main internet, listening music, and reading a novel. Tapi yang paling aku suka itu baca novel and nulis. Jelas donk!! Penulis kan, udah jadi cita-citaku. Tapi, jujur ya, setiap aku dapet ide buat di tulis, aku males nulis. Tapi, kalau pas pengen nulis, malah enggak punya ide. Huft!!
Aku pengen banget jadi penulis kayak Andrea Hirata, atau penulis-penulis cilik KKPK yang udah nerbitin buku. Tapi, masalahny ya cuma itu, males buat nulis. Padahal, pasti setiap penulis pasti juga pernah atau bahkan sering ya, maels nulis. Cuma aku saja yang enggak mau berusaha.., ckck..,
Yah, lewat blog ini, tulisanku mulai ter-promote. Tapi, bingungnya, cara promosiin blog ini. Huft!!
Ada yang kasih saran ke aku, supaya tulisanku di-buku-kan saja. Aku rasa, susah bahkan sangat berat untuk menerbitkan sebuah buku, Tapi, kalau aku baca tulisan-tulisan penulis KKPK, mereka juga merasa berat waktu di suruh menerbikan buku. Tapi ternyata tidak terlalu susah. Yach, semoga saja perasaanku bakalan sama seperti perasaan mereka. Amin. Dan cita-citaku akan tercapi besok. Amin!! :)
Doakan ya, supaya aku benar-benar bisa menerbitkan sebuah buku.., :)
Jumat, 08 Juli 2011
Ibu..,
Di hatiku, orang nomor satu adalah Ibu. Ibulah yang mengasuhku sejak kecil, yang menimangku jika aku menangis, yang menyuapiku jika aku lapar. Ibu yang memberi aku asi. Ibulah yang pertama kali ikut panik jika aku sedang sakit. Tanpa Ibu, aku tidak akan pernah ada di dunia ini.
* * *
Aku Shera. Seorang sulung dari 4 bersaudara. Ayahku telah meninggal. Hanya Ibu yang mengasuhku dan ketiga adik-adikku sejak adikku yang paling kecil, Lian berumur 5 bulan. Ayahku meninggal karena kecelakaan saat sedang mengantar Ibu berjualan ke pasar. Sekarang, untuk memenuhi kebutuhanku dan adik-adikku, Ibuku berjuang melawan hambatan ditengah jalan, demi kami berempat. Sungguh kasihan. Seorang Ibu, yang berjuang melahirkan kami, sehingga kami ada di dunia ini, kini harus berjuang lagi, demi kami pula.
* * *
21 Desember 2010…
Pagi yang cerah. Secerah wajah Ibu hari ini. Pukul 3 pagi, Ibu telah siap dengan dagangannya yang di gendongnya, untuk dijual di pasar. Sejak Ayah meninggal, Ibu berjualan ke pasar dengan hanya berjalan kaki. Berangkat pagi, dan pulang petang hari. setelah itu, kadang-kadang ibu masih memasakkan makanan untuk kami. Kadang-kadang, aku merasa kasihan dengan beliau. Tapi, demi kami, beliau rela mengeluarkan keringat hingga bercucuran.
“Shera, Ibu berangkat dulu, ya..!? Doakan Ibu supaya dagangan Ibu cepat habis. Jangan lupa nanti siapkan sarapan. Uang sakunya sudah Ibu taruh di atas meja belajarmu. Dan tolong sampaikan salam ibu untuk adik-adikmu nanti jika sudah bangun tidur!” ucap Ibu kepadaku, sambil berjalan menuju pintu.
“Baik, Bu..! Hati-hati, ya…?!” jawabku sambil tersenyum, dan berjalan mengantar Ibu sampai depan rumah.
“Assalammu’alaikum!!” kata Ibu lagi sambil mencium keningku dengan lembut. Aku tersenyum, dan balik mencium pipi Ibu. Tapi, aku juga heran. Karena perilaku Ibu pagi ini berbeda dengan page-page sebelumnya.
“Wa’alaikumsalam!!” jawabku sambil melihat Ibu yang telah berjalan meninggalkan rumah, tanpa menghiraukan keanehan Ibu. Makin lama, makin jauh ibu meninggalkan rumah. Dan akhirnya, tinggal kami berempat yang ada dirumah mungil. Rumah kami tersusun dari batu-bata namun bangunannya lumayan kecil. Tapi, kami bersyukur bisa tinggal di rumah seperti ini.
Setelah itu, aku segera menuju ke dapur, dan memasak air untuk mandi. Sambil menunggu air mendidih, aku sholat shubuh di kamar. Selesai sholat, aku kembali ke dapur dan menghidupkan api di tungku untuk memasak nasi. Kami biasa sarapan hanya dengan telur mata sapi.
Tak terasa, jam sudah menunjuk pukul 4 pagi. Aku membangunkan adik-adikku satu-persatu untuk siap-siap ke sekolah. Kami berempat hanya berselisih masing-masing satu tahun. Dan kami semua sudah duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku kelas 6, dan Adikku yang palig kecl kelas 3. Sekolah kami berjarak cukup jauh dari rumah. Sehingga kami harus berangkat pagi-pagi benar untk sampai di sekolah tepat waktu.
“Dik, Adik, ayo bangun…!!! Sudah jam 4 pagi, lho…!!” kataku lembut sambil mencium pipi mereka satu-persatu.
“Hooaammm…, masih ngantuk, ni Kak…!!” keluh Desty, adikku yang pertama.
“Iya, ni, Kak..!! Sebentar lagi, ya..!?” ucap Ani mendukung keluhan Desty. Kulihat Lian hanya diam saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Heh…, nanti terlambat berangkat sekolah, nya!! Ayo bangun!! Nanti kalau sudah sholat shubuh dan mandi, kan, tidak mengantuk lagi..!! Ayo-ayo…!!” kataku sambil melipat selimut mereka.
“Baiklah..!!” kata mereka bertiga bebarengan. Setelah itu, mereka bangun dan menuju kamar mandi dengan mengantri.
* * *
Mungkin kalian heran dengan kami, karena kami berangkat sekolah pukul 05.30. Mungkin kalian tidak terbiasa berangkat sekolah sepagi ini. Namun, kami sudah terbiasa berangkat sekolah sepagi ini. Karena jarak antara sekolah, dengan rumah kami memang cukup jauh. Sekitar 3 Kilometer. Dan kami harus menempu jarak sejauh itu dengan berjalan kaki. Bisa kalian bayangkan, bagaimana rasanya jika menempuh jarak sebanyak itu, pulang dan pergi. Tapi jarak sebanyak itu masih mendingan daripada jarak yang Ibu tempuh untuk sampai di pasar. 5 Kilometer. Aku bisa membayangkan, bagaimana rasa capeknya menempuh jarak sebanyak itu. Ibuku memang hebat..!!
* * *
Setelah sarapan, kami berangkat sekolah bersama. Pukul 05.30 tepat. Aku mengambil tas usang satu-satunya yang aku miliki. Tanpa sengaja, mataku melirik ke kalender. Besok pagi, tanggal 22, berarti, besok pagi hari Ibu…!!! Mau kasih kado apa, ya, ke Ibu??, pikirku.
Sambil memikirkan kado untuk ibu, tak lupa aku mengambil uang yang selama ini aku simpan utuk membeli kado untuk ibu nanti. Aku masih memikirkan kado untuk ibu. Sebaiknya ibu aku beri apa, ya? Bagaimana kalau tenggok?? Ya! Benda itu sangat sederhana, tapi, aku percaya, bagi ibu, benda itu sangat berharga. Kebetulan tenggok milik ibu sekarang, sudah agak rusak. Tentu ibu akan merasa senang jika aku belikan tenggok baru untuk berjualan ke pasar.
* * *
Pulang sekolah, aku bersama adik-adikku berjalan menuju pasar yang tidak terlalu jauh dengan sekolahku. Sampai di pasar, aku pergi menuju tempat dimana menjual tenggok. Semacam kios, begitulah. Setelah sampai, aku memilih tenggok yang menurutku paling bagus untuk ibu. Akhirny aku menemukannya. segera aku membayarnya, lalu pulang.
* * *
Sore harinya, sekitar pukul lima, ibu pulang dari berjualan. Kelihatannya, ibu capek sekali. Aku melemparkan senyum kepadanya, beliau membalasnya, namun kelihatan terpaksa. Ibu masuk rumah, lalu langsung masuk ke kamarnya. Aku membuatkan segelas teh hangat untuk ibu. Supaya dia merasa agak enak. Kelihatannya, karena kecapekan dia kurang enak badan.
Aku berdoa pada Tuhan. Supaya Ibu tidak terserang penyakit. Supaya Ibu tetap bisa menemani hari-hariku dan ketiga saudaraku.
* * *
22 Desember 2011
Hari ini hari ibu. Hari yang kutunggu-tunggu sejak kemarin. Karena hari ini, aku akan memberikan tenggok yang kemarin aku beli kepada Ibuku. Setelah mandi, aku mengambil tenggok untuk Ibu. Sep[ertinya, Ibu belum bangun. Makannya, aku mengunjungi kamar tidurnya. Terlihat Ibu masih terbaring di ranjangnya. Sebenarnya, aku tidak ingin membangunkan Ibu. Tapi, aku juga ingin memberikan hadiah untuk Ibu. Ah, kuberikan nanti saja kalau sudah bangun, pikirku.
Sambil menunggu ibu bangun, aku membuatkan teh untuknya. Ku taruh teh itu di meja di samping ranjangnya. Ku cium kening Ibu. Aku berharap, semoga Ibu cepat sembuh.
Aku agak merasa ada kejanggalan saat mencium kening Ibu. Tidak terdengar suara nafas Ibu!!!!! Jangan-jangan..., Ah!!! Jangan mikir yang yang enggak-enggak!!
Lama kutunggu Ibu bangun tidur. Udah hampir jam 10, kok belum bangun ya...?! Aku mulai merasakan kejanggalan yang sangat..sangat.. Karena penasaran, aku pergi ke kamar Ibu. Aku memegang tangan kirinya. Mencari urat nadi. Tidak ada!! Tidak berdetak sama sekali. Jadi.. hiks.., :(
Aku keluar rumah. Mencari bantuan. Tiba-tiba, ada orang yang kebetulan lewat di depan rumahku. Bude Irma. Dia kakak Ibuku yang tinggal dekat rumahku. Ada juga adik-adikku yang sedang bermain di halaman rumah. Mereka semua heran melihat aku menangis sesenggukkkan. Mereka menghampiriku.
"Ada apa kak??" tanya adik-adikku.
"Shera, ada apa??" tanya Bude Irma. Namun, aku tidakl bisa menjawab pertanyaan itu. Aku belum mampu bicara. Aku hanya menunjuk-nunjuk kamar Ibu. Mereka segera menuju ke kamar Ibu.
* * *
Aku sedih sekali. Kenapa Ibu pergi di saat aku akan memberikan sesuatu untuknya. Di saat hari spesialnya? Aku belum bisa melupakan wajah Ibu yang selalu ceria menemani hari-hariku dan saudara-saudaraku. Tapi hari itu.., hiks..,
Sekarang aku tidak tinggal bersama Ibu lagi. Ibu yang selalu kusayangi. Ibuku, orang satu-satunya yang bisa kupercaya, sekarnag sudah tiada. Aku sedih bukan kepalang. Sekarang aku dan ketiga adik-adikku menjadi yatin-piatu. Tinggal bersama Bude Irma, kakak Ibu. Walaupun Bude sangat sayang kepadaku dan saudara-saudaraku, tapi menurutku kasih sayang Ibu tiada bandingannya. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan kasih sayang Ibu
Ibu, semoga engkau tenang di alam sana. Aku tidak akan melupakan kasih sayangmu, Ibu...,
I love you, mom..,
I love you, mom..,
Rabu, 08 Juni 2011
Now, I Know
Ketika pelajaran Ipa, Pak guru memberi tugas untuk kami, anak-anak kelas 6. Tugasnya, mencari informasi di Internet tentang Suaka Margasatwa, Cagar Alam, dan Hutan Lindung di Indonesia. Tugas ini tugas kelompok.
Aku dan teman-teman anggota kelompokku mendiskusikan tentang tugas itu ketika jam istirahat.
“Nanti, kita ke warnet saja, yuk, untuk mencari informasi itu…!!” usul Ita.
“Bagaimana kalau kita ke rumah Dewi saja untuk mencari informasi itu? Dewi, kan, punya modem dan komputer…!!” usul Ida.
“Kalau di rumahku itu, modemnya lambat, bekerjanya! Mending, kita ke warnet saja nanti sepulang sekolah! Bagaimana?” aku memberi usul.
“Kalau di rumahku itu, modemnya lambat, bekerjanya! Mending, kita ke warnet saja nanti sepulang sekolah! Bagaimana?” aku memberi usul.
“Baiklah..!!” kata teman-temanku menyetujui.
“Tapi, kita naik apa, ke warnetnya..??” tanya Ima tiba-tiba.
“Jalan kaki saja!” jawab Aini. Yang lain mengangguk.
Sepulang sekolah, sesuai dengan rencana tadi, aku dan teman-teman satu kelompokku akan pergi ke warnet untuk tugas Ipa yang diberikan Pak Guru tadi. Sebelum pergi meninggalkan sekolah menuju warnet, masing-masing dari kami menelepon orangtua kami untik meminta izin. Termasuk aku. Aku menelepon Ibuku untuk meminta izin supaya diperbolehkan pergi ke warnet.
Tapi, Ibuku bilang di telepon, kalau aku tidak diizinkan pergi ke warnet. Karena, nanti modemnya akan dibelikan pulsa oleh Bapakku. Tentu saja, aku sedih karena tidak diizinkan untuk pergi ke warnet. Dan akhirnya, hanya teman-temanku ber-empat yang akan pergi ke warnet.
Aku sedih, karena tidak diperbolehkan orangtuaku untuk pergi ke warnet. aku marah besar kepada orangtuaku. Kenapa tidak boleh? Padahal, kan ini untuk menyelesaikan tugas..!!
* * *
Sampai di rumah, aku masih sedih memikirkan kejadian tadi. Aku jadi merasa enggak enak sama teman-temanku. Kenapa, sich, aku enggak boleh ke warnet??? Lagi-lagi pertanyaan itu mengelilingi kepalaku.
Kemarahanku belum berhenti samapi sore hari. Sampai Ayahku pulang ke rumah. Aku menyindir semua kata yang dibicarakan Ayah. Entah itu Ayah berbicara apa, aku menyindirnya. Tampaknya, Ayah tahu kalau aku marah kepadanya. Ayah lalu menuju meja computer, lalu menyalakannya, dan menyambungkannya ke koneksi internet.
“Dewi, coba kesini!!” perintah Ayah kepadaku.Aku menghampiri marah masih dengan rasa marah.
“Mana internetnya yang enggak bisa??” kata Ayah.
“Ya itu…!!! Ayah lihat sendiri saja, nanti pasti lambat dan akhirnya, koneksinya terputus, gara-gara enggak ada sinyal…!!” elakku kepada Ayah. Akhirnya, Ayah memalingkan wajahnya ke computer. Dan benar apa yang ku katakan.
“Ayah, sich, pakai enggak ngebolehin aku ke warnet. Padahal kan, itu untuk tugas..!! Pasti nanti aku bakalan dimarahin sama teman-teman satu kelompokku!” kataku lagi masih dengan nada marah.
“Dewi, Ayah bukannya ngelarang kamu pergi ke warnet!! Boleh-boleh aja kamu pergi ke warnet!! Tapi, kan, kamu punya computer sendiri. Modemnya pun, sudah ada. Tinggal make’. Enggak perlu membayar ongkos, lagi!” kata Ayah.
“Tapi, kan, Modem di rumah lambat kerjanya! Bisa-bisa, tugasnya malah enggak selesai!!” kataku masih dengan rasa jengkel.
“Dewi, warnet tu terlalu bahaya buat kamu. Disana keamanannya, kan enggak terjamin. Lagipula, juga belum tentu kamu cuma cari tugas. Bisa, kan, kamu sama temenmu buka situs lain, selain yang kalian cari. Nah, kalau udah kayak gitu, kan, enggak ada yang mengawasi. Ayah Ibu enggak bisa!” kata Ayah panjang lebar menasehatiku. “Lagipula, belum tentu, kan, teman-temanmu itu Cuma cari tugas. Memangnya, kamu pasti percaya, kalau mereka Cuma cari tugas? Belum tentu! Mereka pasti juga akan buka gameonlinE! Iya, kan? Nah, di warnet itu banyak efek negativnya juga! Makannya, Ayah dan Ibu enggak mengizinkan kamu pergi ke warnet!” lanjut Ayah kembali menasehatiku.
Akhirnya, sekarang aku mengerti. Orangtuaku tidak mengizinkan aku pergi ke warnet karena mereka sayang kepadaku. Bukan karena mereka benci kepadaku. ^_^
New Friend
“Selamat pagi teman-teman. Kenalkan, nama saya Reza Putra Antolin. Teman-teman cukup memanggil saya Putra. Saya pindahan dari SD Citra Pelangi.” ucap anak baru tu dengan sedikit malu-malu.
“Nah Putra, silahkan kamu duduk sebangku dengan Dicky..!” perintah Bu Niken, guru kelas kami kepada anak baru itu, Putra.
Menurutku, anak baru itu cukup ganteng, lo..! Pokoknya coolll bangeeettt…! Kelihatan pintar karena memakai kacamata, dan matanya sedikit agak sipit. Hihi.., jadi naksir sama dia..! Hehe..,
“Baiklah anak-anak, Ibu akan memberi tugas kepada kalian. Tugas Matematika halaman 105. Dikerjakan di selembar kertas folio dan dikerjakan secara kelompok!” kata Bu Niken menerangkan tugas yang harus kami kerjakan.
Huh, kenapa harus tugas kelompok, sih? Padahal, aku paling sebel sama yang namanya tugas kelompok! Mana satu kelompok sama Reno lagi! Anak yang paling aku benci! Itu lho, tingkahnya itu sok bos banget. Temen-temennya, suruh nurutin semua kemauannya. Suruh ini, suruh itu. Huh, kalau aku jadi temennya, aku tolak mentah-mentah suruhannya…!
“Oh, ya, untuk Putra, kamu masuk ke kelompok Mira, ya!?” kata Bu Niken tiba-tiba. Entah mengapa, aku jadi kaget setelah mendengar kata ‘untuk Putra, kamu masuk ke kelompok Mira, ya!?’. Yes, bisa ‘caper’ ma dia, nih..!!
Aku segera menyelesaikan tugas kelompokku, bersama anggota kelompokku yang lainnya. Seperti biasa, aku jengkel ketika Reno mulai mengobrol. Padahal tugasnya belum selasai lagi!! Mana ngobrolnya ngajak Putra..!
“Heh, Putra, Reno, tugas kalian udah selesai belum, sih..?! Kalau belum, ya jangan ngobrol, dong..!!” teriakku jengkel kepada mereka berdua.
“Terserah kita, dong..! Mau ngobrol kek, mau engggak, kek, kakek-kakek, kek, kamu engggak usah ngurusin, dong! Up to we..!” balas Reno sambil mengerjakan tugas dengan terpaksa. Kulihat wajah Putra sedikit kesal. Duh…, gimana, nih??, pikirku.
“Galak banget sih, jadi cewek…!” umpat Putra dengan nada kecil, namun aku tetap dapat mendengarnya. Duh…, sedihnya diriku…!
“Tau tu Mira..! cewek tergalak..!” kata Reno mendukung umpatan Putra. Aku bertambah sedih karenanya.
Seminggu kemudian, aku masih memikirkan kejadian itu. Mau caper, eh, malah dapet nya umpatan yang membuatku sedih. Aku terduduk sedih di bangku taman sekolahku. Tiba-tiba, sebuah suara mengagetkanku dari lamunanku.
“Hei Mira...,” sepertinya, aku kenal suara itu. Dan.., ya, tak salah lagi, itu suara Putra..! Aku memalingkan wajahku kearahnya, dan tersenyum kecil. Lalu dia duduk di bangku sebelahku.
“Mmm.., maaf, ya, tentang kejadian satu minggu yang lalu, sewaktu kita belajar kelompok. Sebenarnya, aku enggak bermaksud ngomong kayak gitu!” kata Putra kepadaku. Takku sangka, dia meminta maaf kepadaku!
“Gak papa, kok. Aku yang seharusnya minta maaf soalnya aku udah benta-bentak kamu sama Reno. Abisnya, aku jengkel sama kalian!” jawabku. Kami tersenyum, lalu melanjutkan mengobrol-nya. Asyiknya, dapet temen cowok baru. Ganteng lagi…!!! Hihi, aku tersenyum dalam hati ^_^
Selasa, 07 Juni 2011
Menyontek Saat Ujian???
Hari ini hari keempat ulangan akhir semester di kelasku, kelas VIA. Mata pelajaran pertama yang di ujikan adalah IPA. Pelajaran yang lumayan aku cinta. Tapi, aku lebih suka lagi pelajaran IPa yang tentang Astronomi. hehe…,
Pak Andy, guru favoritku, mulai membagikan soal. Aku sedikit deg-degan juga, sich. Tapi, aku berusaha menghilangkan rasa khawatirku itu.
Aku mulai mengerjakan soal. soal nomor 1, 2, 3, 4…, dan akhirnya, aku mencapai soal nomor 25. Soal uraian. Kubaca soalnya, what?? Tentang Accumulator?? Tentang listrik!! Ya ampun, aku sama sekali enggak tahu..!!! Huh, kubaca soal selanjutnya, tetap listrikkk semua. Sebel dech,!! Tau gini, mending aku nyontek kali ya??! What? nyontk?? Ya, tiba-tiba saja terpikir olehku untuk menyontek buku. Tapi, aku tahu sendiri, bahwa menyontek itu hal yang tidak terpuji. Aku berusaha menahan hawa nafsu itu. Aku mengerjakan soal itu sebisaku, semampuku. Banyak yang aku kerjakan secara ngawur.
Aku melihat sekelilingku. Tampak teman-temanku lesu sambil melihat soal-soal ulangan. Aku tahu, mereka juga kesusahan mengerjakan soal itu. Ku lihat 1, 2 orang temanku meminta jawaban. Menyontek donk…!!! Huh, Pak Guru itu payah…!!! Masak malah sibuk baca buku. Tau gitu, aku bawain novel se-abrek aja…!!!
Aku tetap mengerjakan soalku. Detik berikutnya, kulihat Pak Andy pergi menuju pintu. Dan akhirnya, beliau keluar meninggalkan murud-muridnya. Huh, kok murid-muridnya di tinggalin sich? Sebel, dech! Niat jadi pengawas atau enggak Pak Andy itu??
5, 10, 15 menit. Pak Andy tidak kembali ke kelas. Aku masih tetap memikir jawabanku di lembar soal. Kulihat teman-temanku yang duduk dekat dengan meja guru mendekat ke meja guru. Kuperhatikan, dan ternyata, mereka mencontek kunci jawaban yang sepertinya memang Pak Andy tinggal di meja itu. Huh.., Pak Andy ini gimana, sich!!? Kok kunci jawabannya ditinggal di meja guru?? Sebel dech.., Kalau gini caranya, jelas saja jawaban temanku itu betul semua.
Mulanya yang kulihat hanya lima orang saja, namun, 15 detik kemudian, DUA PULUH orang temanku ikut-ikutan mencontek kunci jawaban. Bayangkan!! 25 anak mencontek kunci!? Gimana enggak salah!? Walaupun aku tahu, pasti tidak semuanya mencontek, tapi, tetap saja aku kesal!!
“Hei, teman-teman, Putri ‘alim’…!! Masa, dia enggak nyontek sendiri, sich..!!” teriak temanku, Resty. Huh, rasa kesalku jadi bertambah dech…,!
“Iya, tu..!! Mentang-mentang pinter sendiri, enggak nyontek, dech!! Dasar sok!!” kata temanku yang lain, Vicky. Sekarang, rasanya kepalaku mau meledak saja!! Terserah aku, donk! Mau nyontek atau enggak. Tapi, lebih baik jujur saja, dech!! Toh, ujian kan, untuk mengukur kemampuan, bukan untuk mencari nilai!! Manurut kalian, gimana??
Tiba-tiba, pintu kelas terbuka. Pak Andy!! Ternyata, selama ini Pak Andy mengawasi dari luar kelas!! Hihi, jelas saja Pak Andy tau kalau 25 muridnya mencontek. Dihukum dech mereka. Mau tahu, apa hukuman untuk mereka?? Kertas ujian mereka disobek, dan mereka disuruh mengerjakan soal lagi sebanyak dua kali lipat!!! Untung dech, aku enggak ikut-ikutan mencontek. Untung aku punya prinsip.
Buat kalian, milih yang mana? Tidak mencontek, nilai jelek, tapi jujur, atau mencontek, nilai bagus, tapi bohong?? Menurt aku, jangan sekali-sekali mencontek saat ujian, dech!! Sama sekali enggak ada untungnya….., ^_^
Langganan:
Komentar (Atom)


