Jumat, 08 Juli 2011

Ibu..,

Di hatiku, orang nomor satu adalah Ibu. Ibulah yang mengasuhku sejak kecil, yang menimangku jika aku menangis, yang menyuapiku jika aku lapar. Ibu yang memberi aku asi. Ibulah yang pertama kali ikut panik jika aku sedang sakit. Tanpa Ibu, aku tidak akan pernah ada di dunia ini.
* * *
Aku Shera. Seorang sulung dari 4 bersaudara. Ayahku telah meninggal. Hanya Ibu yang mengasuhku dan ketiga adik-adikku sejak adikku yang paling kecil, Lian berumur 5 bulan. Ayahku meninggal karena kecelakaan saat sedang mengantar Ibu berjualan ke pasar. Sekarang, untuk memenuhi kebutuhanku dan adik-adikku, Ibuku berjuang melawan hambatan ditengah jalan, demi kami berempat. Sungguh kasihan. Seorang Ibu, yang berjuang melahirkan kami, sehingga kami ada di dunia ini, kini harus berjuang lagi, demi kami pula.
* * *
21 Desember 2010…
Pagi yang cerah. Secerah wajah Ibu hari ini. Pukul 3 pagi, Ibu telah siap dengan dagangannya yang di gendongnya, untuk dijual di pasar. Sejak Ayah meninggal, Ibu berjualan ke pasar dengan hanya berjalan kaki. Berangkat pagi, dan pulang petang hari. setelah itu, kadang-kadang ibu masih memasakkan makanan untuk kami. Kadang-kadang, aku merasa kasihan dengan beliau. Tapi, demi kami, beliau rela mengeluarkan keringat hingga bercucuran.
“Shera, Ibu berangkat dulu, ya..!? Doakan Ibu supaya dagangan Ibu cepat habis. Jangan lupa nanti siapkan sarapan. Uang sakunya sudah Ibu taruh di atas                    meja belajarmu. Dan tolong sampaikan salam ibu untuk adik-adikmu nanti jika sudah bangun tidur!” ucap Ibu kepadaku, sambil berjalan menuju pintu.
“Baik, Bu..! Hati-hati, ya…?!” jawabku sambil tersenyum, dan berjalan mengantar Ibu sampai depan rumah.
“Assalammu’alaikum!!” kata Ibu lagi sambil mencium keningku dengan lembut. Aku tersenyum, dan balik mencium pipi Ibu. Tapi, aku juga heran. Karena perilaku Ibu pagi ini berbeda dengan page-page sebelumnya.
“Wa’alaikumsalam!!” jawabku sambil melihat Ibu yang telah berjalan meninggalkan rumah, tanpa menghiraukan keanehan Ibu. Makin lama, makin jauh ibu meninggalkan rumah. Dan akhirnya, tinggal kami berempat yang ada dirumah mungil. Rumah kami tersusun dari batu-bata namun bangunannya lumayan kecil. Tapi, kami bersyukur bisa tinggal di rumah seperti ini.
Setelah itu, aku segera menuju ke dapur, dan memasak air untuk mandi. Sambil menunggu air mendidih, aku sholat shubuh di kamar. Selesai sholat, aku kembali ke dapur dan menghidupkan api di tungku untuk memasak nasi. Kami biasa sarapan hanya dengan telur mata sapi.
Tak terasa, jam sudah menunjuk pukul 4 pagi. Aku membangunkan adik-adikku satu-persatu untuk siap-siap ke sekolah. Kami berempat hanya berselisih masing-masing satu tahun. Dan kami semua sudah duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku kelas 6, dan Adikku yang palig kecl kelas 3. Sekolah kami berjarak cukup jauh dari rumah. Sehingga kami harus berangkat pagi-pagi benar untk sampai di sekolah tepat waktu.
“Dik, Adik, ayo bangun…!!! Sudah jam 4 pagi, lho…!!” kataku lembut sambil mencium pipi mereka satu-persatu.
“Hooaammm…, masih ngantuk, ni Kak…!!” keluh Desty, adikku yang pertama.
“Iya, ni, Kak..!! Sebentar lagi, ya..!?” ucap Ani mendukung keluhan Desty. Kulihat Lian hanya diam saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Heh…, nanti terlambat berangkat sekolah, nya!! Ayo bangun!! Nanti kalau sudah sholat shubuh dan mandi, kan, tidak mengantuk lagi..!! Ayo-ayo…!!” kataku sambil melipat selimut mereka.
“Baiklah..!!” kata mereka bertiga bebarengan. Setelah itu, mereka bangun dan menuju kamar mandi dengan mengantri.
* * *
Mungkin kalian heran dengan kami, karena kami berangkat sekolah pukul 05.30. Mungkin kalian tidak terbiasa berangkat sekolah sepagi ini. Namun, kami sudah terbiasa berangkat sekolah sepagi ini. Karena jarak antara sekolah, dengan rumah kami memang cukup jauh. Sekitar 3 Kilometer. Dan kami harus menempu jarak sejauh itu dengan berjalan kaki. Bisa kalian bayangkan, bagaimana rasanya jika menempuh jarak sebanyak itu, pulang dan pergi. Tapi jarak sebanyak itu masih mendingan daripada jarak yang Ibu tempuh untuk sampai di pasar. 5 Kilometer. Aku bisa membayangkan, bagaimana rasa capeknya menempuh jarak sebanyak itu. Ibuku memang hebat..!!
* * *
Setelah sarapan, kami berangkat sekolah bersama. Pukul 05.30 tepat. Aku mengambil tas usang satu-satunya yang aku miliki. Tanpa sengaja, mataku melirik ke kalender. Besok pagi, tanggal 22, berarti, besok pagi hari Ibu…!!! Mau kasih kado apa, ya, ke Ibu??, pikirku.
Sambil memikirkan kado untuk ibu, tak lupa aku mengambil uang yang selama ini aku simpan utuk membeli kado untuk ibu nanti. Aku masih memikirkan kado untuk ibu. Sebaiknya ibu aku beri apa, ya? Bagaimana kalau tenggok?? Ya! Benda itu sangat sederhana, tapi, aku percaya, bagi ibu, benda itu sangat berharga. Kebetulan tenggok milik ibu sekarang, sudah agak rusak. Tentu ibu akan merasa senang jika aku belikan tenggok baru untuk berjualan ke pasar.
* * *
Pulang sekolah, aku bersama adik-adikku berjalan menuju pasar yang tidak terlalu jauh dengan sekolahku. Sampai di pasar, aku pergi menuju tempat dimana menjual tenggok. Semacam kios, begitulah. Setelah sampai, aku memilih tenggok yang menurutku paling bagus untuk ibu. Akhirny aku menemukannya. segera aku membayarnya, lalu pulang.
* * *
Sore harinya, sekitar pukul lima, ibu pulang dari berjualan. Kelihatannya, ibu capek sekali. Aku melemparkan senyum kepadanya, beliau membalasnya, namun kelihatan terpaksa. Ibu masuk rumah, lalu langsung masuk ke kamarnya. Aku membuatkan segelas teh hangat untuk ibu. Supaya dia merasa agak enak. Kelihatannya, karena kecapekan dia kurang enak badan.
Aku berdoa pada Tuhan. Supaya Ibu tidak terserang penyakit. Supaya Ibu tetap bisa menemani hari-hariku dan ketiga saudaraku.
* * *
22 Desember 2011
Hari ini hari ibu. Hari yang kutunggu-tunggu sejak kemarin. Karena hari ini, aku akan memberikan tenggok yang kemarin aku beli kepada Ibuku. Setelah mandi, aku mengambil tenggok untuk Ibu. Sep[ertinya, Ibu belum bangun. Makannya, aku mengunjungi kamar tidurnya. Terlihat  Ibu masih terbaring di ranjangnya. Sebenarnya, aku tidak ingin membangunkan Ibu. Tapi, aku juga ingin memberikan hadiah untuk Ibu. Ah, kuberikan nanti saja kalau sudah bangun, pikirku.
Sambil menunggu ibu bangun, aku membuatkan teh untuknya. Ku taruh teh itu di meja di samping ranjangnya. Ku cium kening Ibu. Aku berharap, semoga Ibu cepat sembuh.
Aku agak merasa ada kejanggalan saat mencium kening Ibu. Tidak terdengar suara nafas Ibu!!!!! Jangan-jangan..., Ah!!! Jangan mikir yang yang enggak-enggak!!
Lama kutunggu Ibu bangun tidur. Udah hampir jam 10, kok belum bangun ya...?! Aku mulai merasakan kejanggalan yang sangat..sangat.. Karena penasaran, aku pergi ke kamar Ibu. Aku memegang tangan kirinya. Mencari urat nadi. Tidak ada!! Tidak berdetak sama sekali. Jadi.. hiks.., :(
Aku keluar rumah. Mencari bantuan. Tiba-tiba, ada orang yang kebetulan lewat di depan rumahku. Bude Irma. Dia kakak Ibuku yang tinggal dekat rumahku. Ada juga adik-adikku yang sedang bermain di halaman rumah. Mereka semua heran melihat aku menangis sesenggukkkan. Mereka menghampiriku.
"Ada apa kak??" tanya adik-adikku.
"Shera, ada apa??" tanya Bude Irma. Namun, aku tidakl bisa menjawab pertanyaan itu. Aku belum mampu bicara. Aku hanya menunjuk-nunjuk kamar Ibu. Mereka segera menuju ke kamar Ibu.
* * *
Aku sedih sekali. Kenapa Ibu pergi di saat aku akan memberikan sesuatu untuknya. Di saat hari spesialnya? Aku belum bisa melupakan wajah Ibu yang selalu ceria menemani hari-hariku dan saudara-saudaraku. Tapi hari itu.., hiks..,
Sekarang aku tidak tinggal bersama Ibu lagi. Ibu yang selalu kusayangi. Ibuku, orang satu-satunya yang bisa kupercaya, sekarnag sudah tiada. Aku sedih bukan kepalang. Sekarang aku dan ketiga adik-adikku menjadi yatin-piatu. Tinggal bersama Bude Irma, kakak Ibu. Walaupun Bude sangat sayang kepadaku dan saudara-saudaraku, tapi menurutku kasih sayang Ibu tiada bandingannya. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan kasih sayang Ibu
Ibu, semoga engkau tenang di alam sana. Aku tidak akan melupakan kasih sayangmu, Ibu...,
I love you, mom..,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar