Ketika pelajaran Ipa, Pak guru memberi tugas untuk kami, anak-anak kelas 6. Tugasnya, mencari informasi di Internet tentang Suaka Margasatwa, Cagar Alam, dan Hutan Lindung di Indonesia. Tugas ini tugas kelompok.
Aku dan teman-teman anggota kelompokku mendiskusikan tentang tugas itu ketika jam istirahat.
“Nanti, kita ke warnet saja, yuk, untuk mencari informasi itu…!!” usul Ita.
“Bagaimana kalau kita ke rumah Dewi saja untuk mencari informasi itu? Dewi, kan, punya modem dan komputer…!!” usul Ida.
“Kalau di rumahku itu, modemnya lambat, bekerjanya! Mending, kita ke warnet saja nanti sepulang sekolah! Bagaimana?” aku memberi usul.
“Kalau di rumahku itu, modemnya lambat, bekerjanya! Mending, kita ke warnet saja nanti sepulang sekolah! Bagaimana?” aku memberi usul.
“Baiklah..!!” kata teman-temanku menyetujui.
“Tapi, kita naik apa, ke warnetnya..??” tanya Ima tiba-tiba.
“Jalan kaki saja!” jawab Aini. Yang lain mengangguk.
Sepulang sekolah, sesuai dengan rencana tadi, aku dan teman-teman satu kelompokku akan pergi ke warnet untuk tugas Ipa yang diberikan Pak Guru tadi. Sebelum pergi meninggalkan sekolah menuju warnet, masing-masing dari kami menelepon orangtua kami untik meminta izin. Termasuk aku. Aku menelepon Ibuku untuk meminta izin supaya diperbolehkan pergi ke warnet.
Tapi, Ibuku bilang di telepon, kalau aku tidak diizinkan pergi ke warnet. Karena, nanti modemnya akan dibelikan pulsa oleh Bapakku. Tentu saja, aku sedih karena tidak diizinkan untuk pergi ke warnet. Dan akhirnya, hanya teman-temanku ber-empat yang akan pergi ke warnet.
Aku sedih, karena tidak diperbolehkan orangtuaku untuk pergi ke warnet. aku marah besar kepada orangtuaku. Kenapa tidak boleh? Padahal, kan ini untuk menyelesaikan tugas..!!
* * *
Sampai di rumah, aku masih sedih memikirkan kejadian tadi. Aku jadi merasa enggak enak sama teman-temanku. Kenapa, sich, aku enggak boleh ke warnet??? Lagi-lagi pertanyaan itu mengelilingi kepalaku.
Kemarahanku belum berhenti samapi sore hari. Sampai Ayahku pulang ke rumah. Aku menyindir semua kata yang dibicarakan Ayah. Entah itu Ayah berbicara apa, aku menyindirnya. Tampaknya, Ayah tahu kalau aku marah kepadanya. Ayah lalu menuju meja computer, lalu menyalakannya, dan menyambungkannya ke koneksi internet.
“Dewi, coba kesini!!” perintah Ayah kepadaku.Aku menghampiri marah masih dengan rasa marah.
“Mana internetnya yang enggak bisa??” kata Ayah.
“Ya itu…!!! Ayah lihat sendiri saja, nanti pasti lambat dan akhirnya, koneksinya terputus, gara-gara enggak ada sinyal…!!” elakku kepada Ayah. Akhirnya, Ayah memalingkan wajahnya ke computer. Dan benar apa yang ku katakan.
“Ayah, sich, pakai enggak ngebolehin aku ke warnet. Padahal kan, itu untuk tugas..!! Pasti nanti aku bakalan dimarahin sama teman-teman satu kelompokku!” kataku lagi masih dengan nada marah.
“Dewi, Ayah bukannya ngelarang kamu pergi ke warnet!! Boleh-boleh aja kamu pergi ke warnet!! Tapi, kan, kamu punya computer sendiri. Modemnya pun, sudah ada. Tinggal make’. Enggak perlu membayar ongkos, lagi!” kata Ayah.
“Tapi, kan, Modem di rumah lambat kerjanya! Bisa-bisa, tugasnya malah enggak selesai!!” kataku masih dengan rasa jengkel.
“Dewi, warnet tu terlalu bahaya buat kamu. Disana keamanannya, kan enggak terjamin. Lagipula, juga belum tentu kamu cuma cari tugas. Bisa, kan, kamu sama temenmu buka situs lain, selain yang kalian cari. Nah, kalau udah kayak gitu, kan, enggak ada yang mengawasi. Ayah Ibu enggak bisa!” kata Ayah panjang lebar menasehatiku. “Lagipula, belum tentu, kan, teman-temanmu itu Cuma cari tugas. Memangnya, kamu pasti percaya, kalau mereka Cuma cari tugas? Belum tentu! Mereka pasti juga akan buka gameonlinE! Iya, kan? Nah, di warnet itu banyak efek negativnya juga! Makannya, Ayah dan Ibu enggak mengizinkan kamu pergi ke warnet!” lanjut Ayah kembali menasehatiku.
Akhirnya, sekarang aku mengerti. Orangtuaku tidak mengizinkan aku pergi ke warnet karena mereka sayang kepadaku. Bukan karena mereka benci kepadaku. ^_^