Rabu, 08 Juni 2011

Now, I Know



            Ketika pelajaran Ipa, Pak guru memberi tugas untuk kami, anak-anak kelas 6. Tugasnya, mencari informasi di Internet tentang Suaka Margasatwa, Cagar Alam, dan Hutan Lindung di Indonesia. Tugas ini tugas kelompok.
Aku dan teman-teman anggota kelompokku mendiskusikan tentang tugas itu ketika jam istirahat.
“Nanti, kita ke warnet saja, yuk, untuk mencari informasi itu…!!” usul Ita.
“Bagaimana kalau kita ke rumah Dewi saja untuk mencari informasi itu? Dewi, kan, punya modem dan komputer…!!” usul Ida.
            “Kalau di rumahku itu, modemnya lambat, bekerjanya! Mending, kita ke warnet saja nanti sepulang sekolah! Bagaimana?” aku memberi usul.
“Baiklah..!!” kata teman-temanku menyetujui.
“Tapi, kita naik apa, ke warnetnya..??” tanya Ima tiba-tiba.
“Jalan kaki saja!” jawab Aini. Yang lain mengangguk.
Sepulang sekolah, sesuai dengan rencana tadi, aku dan teman-teman satu kelompokku akan pergi ke warnet untuk tugas Ipa yang diberikan Pak Guru tadi. Sebelum pergi meninggalkan sekolah menuju warnet, masing-masing dari kami menelepon orangtua kami untik meminta izin. Termasuk aku. Aku menelepon Ibuku untuk meminta izin supaya diperbolehkan pergi ke warnet.
Tapi, Ibuku bilang di telepon, kalau aku tidak diizinkan pergi ke warnet. Karena, nanti modemnya akan dibelikan pulsa oleh Bapakku. Tentu saja, aku sedih karena tidak diizinkan untuk pergi ke warnet. Dan akhirnya, hanya teman-temanku ber-empat yang akan pergi ke warnet.
Aku sedih, karena tidak diperbolehkan orangtuaku untuk pergi ke warnet. aku marah besar kepada orangtuaku. Kenapa tidak boleh? Padahal, kan ini untuk menyelesaikan tugas..!!
* * *
Sampai di rumah, aku masih sedih memikirkan kejadian tadi. Aku jadi merasa enggak enak sama teman-temanku. Kenapa, sich, aku enggak boleh ke warnet??? Lagi-lagi pertanyaan itu mengelilingi kepalaku.
Kemarahanku belum berhenti samapi sore hari. Sampai Ayahku pulang ke rumah. Aku menyindir semua kata yang dibicarakan Ayah. Entah itu Ayah berbicara apa, aku menyindirnya. Tampaknya, Ayah tahu kalau aku marah kepadanya. Ayah lalu menuju meja computer, lalu menyalakannya, dan menyambungkannya ke koneksi internet.
“Dewi, coba kesini!!” perintah Ayah kepadaku.Aku menghampiri marah masih dengan rasa marah.
“Mana internetnya yang enggak bisa??” kata Ayah.
“Ya itu…!!! Ayah lihat sendiri saja, nanti pasti lambat dan akhirnya, koneksinya terputus, gara-gara enggak ada sinyal…!!” elakku kepada Ayah. Akhirnya, Ayah memalingkan wajahnya ke computer. Dan benar apa yang ku katakan.
“Ayah, sich, pakai enggak ngebolehin aku ke warnet. Padahal kan, itu untuk tugas..!! Pasti nanti aku bakalan dimarahin sama teman-teman satu kelompokku!” kataku lagi masih dengan nada marah.
“Dewi, Ayah bukannya ngelarang kamu pergi ke warnet!! Boleh-boleh aja kamu pergi ke warnet!! Tapi, kan, kamu punya computer sendiri. Modemnya pun, sudah ada. Tinggal make’. Enggak perlu membayar ongkos, lagi!” kata Ayah.
“Tapi, kan, Modem di rumah lambat kerjanya! Bisa-bisa, tugasnya malah enggak selesai!!” kataku masih dengan rasa jengkel.
“Dewi, warnet tu terlalu bahaya buat kamu. Disana keamanannya, kan enggak terjamin. Lagipula, juga belum tentu kamu cuma cari tugas. Bisa, kan, kamu sama temenmu buka situs lain, selain yang kalian cari. Nah, kalau udah kayak gitu, kan, enggak ada yang mengawasi. Ayah Ibu enggak bisa!” kata Ayah panjang lebar menasehatiku. “Lagipula, belum tentu, kan, teman-temanmu itu Cuma cari tugas. Memangnya, kamu pasti percaya, kalau mereka Cuma cari tugas? Belum tentu! Mereka pasti juga akan buka gameonlinE! Iya, kan? Nah, di warnet itu banyak efek negativnya juga! Makannya, Ayah dan Ibu enggak mengizinkan kamu pergi ke warnet!” lanjut Ayah kembali menasehatiku.
Akhirnya, sekarang aku mengerti. Orangtuaku tidak mengizinkan aku pergi ke warnet karena mereka sayang kepadaku. Bukan karena mereka benci kepadaku. ^_^

New Friend


“Selamat pagi teman-teman. Kenalkan, nama saya Reza Putra Antolin. Teman-teman cukup memanggil saya Putra. Saya pindahan dari SD Citra Pelangi.” ucap anak baru tu dengan sedikit malu-malu.
“Nah Putra, silahkan kamu duduk sebangku dengan Dicky..!” perintah Bu Niken, guru kelas kami kepada anak baru itu, Putra.
Menurutku, anak baru itu cukup ganteng, lo..! Pokoknya coolll bangeeettt…! Kelihatan pintar karena memakai kacamata, dan matanya sedikit agak sipit. Hihi.., jadi naksir sama dia..! Hehe..,
“Baiklah anak-anak, Ibu akan memberi tugas kepada kalian. Tugas Matematika halaman 105. Dikerjakan di selembar kertas folio dan dikerjakan secara kelompok!” kata Bu Niken menerangkan tugas yang harus kami kerjakan.
Huh, kenapa harus tugas kelompok, sih? Padahal, aku paling sebel sama yang namanya tugas kelompok! Mana satu kelompok sama Reno lagi! Anak yang paling aku benci! Itu lho, tingkahnya itu sok bos banget. Temen-temennya, suruh nurutin semua kemauannya. Suruh ini, suruh itu. Huh, kalau aku jadi temennya, aku tolak mentah-mentah suruhannya…!
“Oh, ya, untuk Putra, kamu masuk ke kelompok Mira, ya!?” kata Bu Niken tiba-tiba. Entah mengapa, aku jadi kaget setelah mendengar kata ‘untuk Putra, kamu masuk ke kelompok Mira, ya!?’. Yes, bisa ‘caper’ ma dia, nih..!!
Aku segera menyelesaikan tugas kelompokku, bersama anggota kelompokku yang lainnya. Seperti biasa, aku jengkel ketika Reno mulai mengobrol. Padahal tugasnya belum selasai lagi!! Mana ngobrolnya ngajak Putra..!
“Heh, Putra, Reno, tugas kalian udah selesai belum, sih..?! Kalau belum, ya jangan ngobrol, dong..!!” teriakku jengkel kepada mereka berdua.
“Terserah kita, dong..! Mau ngobrol kek, mau engggak, kek, kakek-kakek, kek, kamu engggak usah ngurusin, dong! Up to we..!” balas Reno sambil mengerjakan tugas dengan terpaksa. Kulihat wajah Putra sedikit kesal. Duh…, gimana, nih??, pikirku.
“Galak banget sih, jadi cewek…!” umpat Putra dengan nada kecil, namun aku tetap dapat mendengarnya. Duh…, sedihnya diriku…!
“Tau tu Mira..! cewek tergalak..!” kata Reno mendukung umpatan Putra. Aku bertambah sedih karenanya.
Seminggu kemudian, aku masih memikirkan kejadian itu. Mau caper, eh, malah dapet nya umpatan yang membuatku sedih. Aku terduduk sedih di bangku taman sekolahku. Tiba-tiba, sebuah suara mengagetkanku dari lamunanku.
“Hei Mira...,” sepertinya, aku kenal suara itu. Dan.., ya, tak salah lagi, itu suara Putra..! Aku memalingkan wajahku kearahnya, dan tersenyum kecil. Lalu dia duduk di bangku sebelahku.
“Mmm.., maaf, ya, tentang kejadian satu minggu yang lalu, sewaktu kita belajar kelompok. Sebenarnya, aku enggak bermaksud ngomong kayak gitu!” kata Putra kepadaku. Takku sangka, dia meminta maaf kepadaku!
“Gak papa, kok. Aku yang seharusnya minta maaf soalnya aku udah benta-bentak kamu sama Reno. Abisnya, aku jengkel sama kalian!” jawabku. Kami tersenyum, lalu melanjutkan mengobrol-nya. Asyiknya, dapet temen cowok baru. Ganteng lagi…!!! Hihi, aku tersenyum dalam hati ^_^

Selasa, 07 Juni 2011

Menyontek Saat Ujian???

Hari ini hari keempat ulangan akhir semester di kelasku, kelas VIA. Mata pelajaran pertama yang di ujikan adalah IPA. Pelajaran yang lumayan aku cinta. Tapi, aku lebih suka lagi pelajaran IPa yang tentang Astronomi. hehe…,
Pak Andy, guru favoritku, mulai membagikan soal. Aku sedikit deg-degan juga, sich. Tapi, aku berusaha menghilangkan rasa khawatirku itu.
Aku mulai mengerjakan soal. soal nomor 1, 2, 3, 4…, dan akhirnya, aku mencapai soal nomor 25. Soal uraian. Kubaca soalnya, what?? Tentang Accumulator?? Tentang listrik!! Ya ampun, aku sama sekali enggak tahu..!!! Huh, kubaca soal selanjutnya, tetap listrikkk semua. Sebel dech,!! Tau gini, mending aku nyontek kali ya??! What? nyontk?? Ya, tiba-tiba saja terpikir olehku untuk menyontek buku. Tapi, aku tahu sendiri, bahwa menyontek itu hal yang tidak terpuji. Aku berusaha menahan hawa nafsu itu. Aku mengerjakan soal itu sebisaku, semampuku. Banyak yang aku kerjakan secara ngawur.
Aku melihat sekelilingku. Tampak teman-temanku lesu sambil melihat soal-soal ulangan. Aku tahu, mereka juga kesusahan mengerjakan soal itu. Ku lihat 1, 2 orang temanku meminta jawaban. Menyontek donk…!!! Huh, Pak Guru itu payah…!!! Masak malah sibuk baca buku. Tau gitu, aku bawain novel se-abrek aja…!!!
Aku tetap mengerjakan soalku. Detik berikutnya, kulihat Pak Andy pergi menuju pintu. Dan akhirnya, beliau keluar meninggalkan murud-muridnya. Huh, kok murid-muridnya di tinggalin sich? Sebel, dech! Niat jadi pengawas atau enggak Pak Andy itu??
5, 10, 15 menit. Pak Andy tidak kembali ke kelas. Aku masih tetap memikir jawabanku di lembar soal. Kulihat teman-temanku yang duduk dekat dengan meja guru mendekat ke meja guru. Kuperhatikan, dan ternyata, mereka mencontek kunci jawaban yang sepertinya memang Pak Andy tinggal di meja itu. Huh.., Pak Andy ini gimana, sich!!? Kok kunci jawabannya ditinggal di meja guru?? Sebel dech.., Kalau gini caranya, jelas saja jawaban temanku itu betul semua.
Mulanya yang kulihat hanya lima orang saja, namun, 15 detik kemudian, DUA PULUH orang temanku ikut-ikutan mencontek kunci jawaban. Bayangkan!! 25 anak mencontek kunci!? Gimana enggak salah!? Walaupun aku tahu, pasti tidak semuanya mencontek, tapi, tetap saja aku kesal!!
“Hei, teman-teman, Putri ‘alim’…!! Masa, dia enggak nyontek sendiri, sich..!!” teriak temanku, Resty. Huh, rasa kesalku jadi bertambah dech…,!
“Iya, tu..!! Mentang-mentang pinter sendiri, enggak nyontek, dech!! Dasar sok!!” kata temanku yang lain, Vicky. Sekarang, rasanya kepalaku mau meledak saja!! Terserah aku, donk! Mau nyontek atau enggak. Tapi, lebih baik jujur saja, dech!! Toh, ujian kan, untuk mengukur kemampuan, bukan untuk mencari nilai!! Manurut kalian, gimana??
Tiba-tiba, pintu kelas terbuka. Pak Andy!! Ternyata, selama ini Pak Andy mengawasi dari luar kelas!! Hihi, jelas saja Pak Andy tau kalau 25 muridnya mencontek. Dihukum dech mereka. Mau tahu, apa hukuman untuk mereka?? Kertas ujian mereka disobek, dan mereka disuruh mengerjakan soal lagi sebanyak dua kali lipat!!! Untung dech, aku enggak ikut-ikutan mencontek. Untung aku punya prinsip.
Buat kalian, milih yang mana? Tidak mencontek, nilai jelek, tapi jujur, atau mencontek, nilai bagus, tapi bohong?? Menurt aku, jangan sekali-sekali mencontek saat ujian, dech!! Sama sekali enggak ada untungnya….., ^_^